Halaman

Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Februari 2013

10 Negara Dengan Jumlah Penduduk Muslim Terbesar Di Dunia


Berikut adalah daftar 10 besar negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia

1. Indonesia : 182,570,000 orang
Indonesia merupakan negara Muslim terbesar di seluruh dunia. Meskipun 88% penduduknya beragama Islam, Indonesia bukanlah negara Islam. Muslim di Indonesia juga dikenal dengan sifatnya yang moderat dan toleran. Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

2. Pakistan : 134,480,000 orang
Pakistan adalah sebuah negara yang terletak di Asia Selatan. Dengan lebih dari 150 juta penduduk, Nama Pakistan diambil dari awalan daerah Punjab, Afghan, Kashmir, Sind dan Baluchistan. Sedangkan dalam bahasa Persi Pak berarti suci dan Stan bermakna negara sehingga para pendiri Pakistan mengharapkan adanya negara suci menurut ajaran Islam.

3. India : 121,000,000 orang
Islam adalah agama yang kedua terbesar kedua setelah agama Hindu (80.5%). Ada sekitar 174 juta Muslim, 16.4% dari jumlah penduduk. Sejak pengenalannya ke India, Islam telah membuat penyumbangan keagamaan, kesenian, falsafah, kebudayaan, kemasyarakatan dan politik kepada sejarah, warisan dan kehidupan India.

4. Bangladesh : 114,080,000 orang
Islam adalah agama terbesar Bangladesh, yang muslim penduduk lebih dari 130 juta dan merupakan hampir 88% dari total jumlah penduduk, berdasarkan sensus 2001. Islam datang ke wilayah Bengal sejak abad ke-13, terutama oleh kedatangan para pedagang Arab, Persia Saints dan penaklukan daerahl Salah satu yang terkenal adalah suci Islam, Shah Jalal.

5. Turki : 65,510,000 orang
Daerah yang terdiri dari Turki moden mempunyai tradisi Islam yang lama dan kaya melatar belakang ke zaman permulaan Seljuk dan Empayar Uthmaniyyah. Orang Turki secara kebudayaan dan sejarah adalah umat Islam.

6. Iran : 62,430,000 orang
Sejarah awal Iran meliputi negara Iran dan juga negara-negara tetangganya yang mempunyai persamaan dalam kebudayaan dan bahasa. Ketika itu, negara-negara ini diperintah oleh kekaisaran-kekaisaran seperti Media dan Akhemenid. Sassania adalah kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Kemudian Persia bergabung menjadi sebagian khilafah Islam awal.

7. Mesir : 58,630,000 orang
Islam menyentuh wilayah Mesir pada 628 Masehi. Ketika itu Rasulullah mengirim surat pada Gubernur Mukaukis -yang berada di bawah kekuasaan Romawi-mengajak masuk Islam. Rasul bahkan menikahi gadis Mesir, Maria. Pada 639 Masehi, ketika Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab, 3000 pasukan Amru bin Ash memasuki Mesir dan kemudian diperkuat pasukan Zubair bin Awwam berkekuatan 4000 orang. Mukaukis didukung gereja Kopti menandatangani perjanjian damai. Sejak itu, Mesir menjadi wilayah kekuasaan pihak Islam. Di masa kekuasaan Keluarga Umayah, dan kemudian Abbasiyah, Mesir menjadi salah satu provinsi seperti semula. Khalifah Muiz membangun Masjid Besar Al-Azhar (dari “Al-Zahra”, nama panggilan Fatimah) yang dirampungkan pada 17 Ramadhan 359 Hijriah, 970 Masehi. Inilah yang kemudian bekembang menjadi Universitas Al-Azhar sekarang, yang juga merupakan universitas tertua di dunia saat ini.

8. Nigeria : 53,000,000 orang
Islam dianut oleh 50% dari total penduduk Nigeria, Penyebaran Islam di Nigeria dibagi dalam tiga periode, yaitu periode Trans Sahara dan Afrika Utara, periode Atlantik dan periode kemerdekaan. di samping melakukan perdagangan, para pedagang Muslim juga memperkenalkan misi utama ajaran Islam, yaitu mengembangkan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan.

9. Algeria (Al-Jazair) : 30,530,000 orang
Islam pertama kali dibawa ke Aljazair oleh Bani Umayyah setelah invasi dinasti dari Uqba bin Nafi, dalam berlarut-larut proses penaklukan dan konversi yang membentang 670-711. Namun, seperti di Timur Tengah itu sendiri, mereka berusaha untuk menggabungkan baru mereka Islam dengan perlawanan terhadap aturan luar negeri kekhalifahan - sebuah ceruk yang Khawarij dan Syiah "ajaran sesat" diisi dengan sempurna.

10. Maroko : 28,780,000 orang
Maroko modern pada abad ke-7 M merupakan sebuah wilayah Barbar yang dipengaruhi Arab. Bangsa Arab yang datang ke Maroko membawa adat, kebudayaan dan ajaran Islam. Sejak itu, bangsa Barbar pun banyak yang memeluk ajaran Islam.

Dikutip dari Republik Science bersumber dari Kaskus.us

http://serba-sepuluh.blogspot.com/2011/0?4/10-negara-dengan-jumlah-penduduk-musli?m.html

Mengubah Mental Pegawai Dengan Khuruj Perkembangan Dakwah ››


Mengubah Mental Pegawai Dengan Khuruj
Adzan shalat Dhuhur berkumandang dari masjid di kantor Walikota Palopo, Sulawesi Selatan, siang itu. Hampir seluruh pegawai bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat. Sebagian pegawai pria lengkap dengan kopiahnya, sementara pegawai wanita lengkap dengan busana Muslimah.

Situasi di atas adalah pemandangan sehari-hari di kantor tersebut. Shalat berjamaah diharuskan bagi seluruh pegawai Muslim. Tak hanya itu, di kantor ini juga diwajibkan berjilbab bagi Muslimah, bisa mengaji, serta khuruj (keluar wilayah untuk berdakwah dengan waktu yang telah ditentukan). Semua itu tertuang dalam surat edaran Walikota Palopo dengan nomor 450/160/Kesra/IV/2009, perihal Peningkatan Shalat Berjamaah dan Kerjasama Dakwah dengan Jamaah Tabligh.

Tapi jangan salah, semua ini bukan paksaan. Semuanya berjalan dengan kesadaran setelah para pegawai mengikuti pesantren kilat yang diberi nama Bimbingan dan Latihan Mental Spiritual. Hasil kerjasama Pemda Palopo dan Jamaah Tabligh (JT).

Baso Sulaiman adalah orang di balik semua kegiatan ini. Lelaki yang kini menjabat sebagai Kabag Kesra Kota Palopo itu selalu melontarkan ide ini dalam setiap rapat di kalangan pejabat daerah. Beragam tanggapan miring selalu ia terima, bahkan usulan itu dianggap aneh dan mengada-ada. Tapi, Baso tak bergeming. “Padahal ini bukan kepentingan saya, ini untuk perbaikan mental pegawai,” ujarnya.

Menurut Baso, tak ada yang perlu dikhawatirkan jalinan kerjasama antara pemda dan JT. “Bagi saya, tabligh hanya salah satu metode dakwah, dan inilah cara saya untuk meningkatkan iman para pegawai,” ungkapnya singkat.
Ide untuk mengangkat program ini, bukan tanpa alasan. Saat menjabat sebagai Kepala Sub Bagian (Kasubag) Organisasi Kab. Luwu (2002), Baso nampak gerah melihat banyaknya pegawai negeri sipil (PNS) yang melanggar syariat, tidak shalat, dan memiliki akhlak buruk. “Banyak PNS bermental buruk; malas, tidak disiplin, tidak jujur, hingga ada yang main judi di kantor,” kenang suami dari Siti Maemunah ini.

Baso semakin risau, ketika melihat para pegawai yang sering datang terlambat, suka berbohong dan tidak disiplin. “Bagaimana bangsa bisa berkembang, kalau mental pegawai seperti ini,” tambahnya. Sementara menurut Baso, pelatihan jenjang kepangkatan yang ada saat ini, seperti pelatihan Pra Jabatan dan Latpim, hanya berada pada tataran pengembangan kognitif, intelektual semata.
Sebenarnya, Baso bukan orang pemerintahan. Sebelum menjabat sebagai Kasubag Organisasi di Luwu, yang sekarang menjadi Kota Palopo, Baso adalah seorang guru. Lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Palopo (1981) ini, awalnya mengajar sebagai tenaga honorer di SD Negeri Wawondula, Kab. Luwu.

Setahun menjadi guru honorer, barulah kemudian Baso diangkat menjadi PNS. Ia dipercaya mengajar di SMP Muhammadiyah Palopo. Berselang beberapa tahun kemudian, Baso diangkat menjadi Kepala Sekolah di sekolah tersebut. Lebih dari 20 tahun lamanya Baso mengajarkan nilai kejujuran, kedisiplinan, dan akhlakul karimah pada SMP Muhammadiyah itu.

Angin segar berhembus bagi Baso, saat otonomi daerah (2002) mulai berjalan. Ia dipindahkan ke Kantor Pemda Luwu. Di tempatnya yang baru ini, ia beri amanah sebagai Kasubag Organisasi. Begitu menjadi pejabat, Baso melihat banyak hal yang berbeda dari apa yang dulu ia ajarkan sebagai guru.
Dengan dasar itulah, Baso berpikir keras untuk mengubah mental buruk sebagian PNS yang digaji oleh negara ini. Dengan pengalaman sebagai guru, Baso juga ingin melihat nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan dan akhlak itu tertanam pada jiwa seluruh PNS di Palopo. Bagi alumni Magister Ilmu Administrasi pada STIA Yappan Jakarta (2006) ini, jika menginginkan masyarakat baik, maka harus dimulai dari pemerintah. “Kalau pemerintah imannya baik, masyarakat juga pasti akan baik,” ungkapnya singkat.
Khuruj sampai Bangladesh

Tahun 2003, secara diam-diam Baso mencoba untuk mengadakan training mental dan spiritual di kantornya, khusus untuk pegawai yang menjadi bawahannya. Saat itu, Baso telah menjabat sebagai Kepala Bagian Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kabag Kesbang Linmas). Dengan memanfaatkan beberapa orang PNS di bawahnya, ia kemudian berinisiatif melakukan ‘Pesantren Kilat’ sehari, materinya hanya seputar perbaikan mental pegawai.

Perlahan tapi pasti, ia terus bergerilya berdakwah di lingkup Pemda, agar semua PNS di Palopo berakhlak baik. Rencana progam ini semakin mantap, setelah Baso mengikuti khuruj tiga hari dengan JT (2005). Lulusan Universitas Cokroaminoto (1988) Palopo ini, kemudian tertarik dengan metode dakwah JT yang banyak mengajarkan seputar akidah dan akhlak.

Saat Suara Hidayatullah menjumpai Baso di kantornya, ia baru saja tiba dari ijtima (pertemuan tahunan) dunia di Serpong, Bogor, 18-20 Juli lalu. Ia aktif mengikuti khuruj tiga hari setiap bulan. Ia juga pernah mengadakan perjalanan khuruj 15 hari ke India, Pakistan dan Bangladesh (2007).

Pada 2006, Baso mengantongi izin Walikota Palopo, HPA. Tanriajeng untuk mengadakan training bimbingan mental spiritual. Maka jadilah sebuah pelatihan dan bimbingan mental spiritual yang dikemas dengan pesantren kilat selama tiga hari dengan 12 materi dari JT.

Hingga saat ini, dari sekitar 3.000-an PNS di Pemda Palopo, lebih dari 800 PNS yang telah mengikuti kegiatan tersebut. Untuk 2009 ini, kegiatan itu dibagi dalam dua angkatan, yang setiap angkatan berjumlah sekitar 100 orang.
Menariknya, sejak awal digulirkan hingga memasuki angkatan ke-4, kegiatan ini tidak menggunakan dana dari pemerintah atau dana APBD. Untuk mengikuti pelatihan tersebut, setiap pegawai dikenakan biaya Rp 50 ribu per hari. “Dana tersebut hanya utuk biaya akomodasi, konsumsi dan transport pemateri,” jelas Baso.
“Kami hanya memerlukan legitimasi dari Pemkot, tanda tangan Walikota bagi saya sudah cukup kuat untuk menjalankan kegiatan ini,” jelas ayah dari Muh. Abdi Baso, Munanjat, Adi Saputra, Ilmina, dan Hayyul Muttaqin ini.

Pelatihan tersebut, kini menjadi bagian program Pemda Palopo. Pelatihan ini wajib diikuti oleh setiap pegawai di semua jenjang. Sertifikat pelatihan ini pun menjadi salah satu syarat kenaikan pangkat atau jenjang bagi PNS di kota Palopo. Selain itu, para PNS pun harus pandai mengaji dan hapal surah-surah pendek dalam al-Qur`an.

Enam tahun kegiatan ini berjalan, baru tahun 2009 ini ia begitu merasakan manfaatnya. Saat ini, sudah sulit untuk menemukan pegawai yang bolos, datang terlambat, atau hanya sekedar datang ke kantor dan kemudian pulang. “Alhamdulillah, sekarang pegawai sudah mulai disiplin, jujur, dan taat sama atasan,” jelas Baso.

Saat ini, mulai dari polisi pamong praja, sopir, guru, kepala bagian, hingga kepala dinas, serta asisten walikota wajib mengikuti kegiatan tersebut. Selanjutnya, setiap tiga hari dalam sebulan, mereka dihimbau untuk pergi khuruj ke masjid-masjid, guna mengajak masyarakat agar turut shalat berjamah di masjid.

Saat wawancara dengan Suara Hidayatullah, tiba-tiba Baso minta ijin. “Kita hentikan dulu wawancara, urusan shalat jamaah masih lebih penting,” katanya sambil menyambar peci di atas meja kerjanya. *Sarmadani/Suara Hidayatullah OKTOBER 2009

http://majalah.hidayatullah.com/?p=610

Kenapa Harus Di India, Panji Islam Dari Timur


Daripada Saidina Tsauban r.hu menceritakan bahawa Nabi SAW bersabda : “Akan muncul dua kumpulan dari umatku yang kedua-duanya dipelihara Allah dari neraka; satu kumpulan yang berjihad/berdakwah di India dan satu kumpulan lagi yang akan bersama Nabi Isa bin Maryam as." Ahmad [Musnad 5/278 no.22759],al-Bukhari [Tarikh al-Kabir Tarjamah Abd al-A'la bin 'Adiy al-Bahrani], al-Nasai [al-Mujtaba' no.3175] Tiada komen, al-Tabarani [Mu'jam al-Awsath 7/23-24] Komen: Tidak diriwayatkan (La Yurwa) hadis ini dari Tsauban melainkan dengan sanad ini. Tafarrud padanya al-Zubaidi, Ibn 'Adiy [al-Kaamil 2/161], al-Haitsami [Majma'uz Zawaaid no.9452] Komen al-Albani [Sahih al-Jami' no.4012,Silsilah as-Sahihah no.1934] Sahih, al-Arnaouth [Tahqiq Musnad Ahmad 37/81 no.22396] Komen(ringkasan) : Hadis hasan dan sanad ini dhaif kerana Baqiyyah bin al-Walid,Rijal yang lain tsiqah kecuali Abu Bakr bin al-Walid al-Zubaidi majhul halnya, Imam As-Suyuti menghasankan hadith ini,lihat Kitab Tanzilul Isa Ibnu Maryam.

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah, bersahabat dengan Maulana Muhammad Ilyas, pendiri Jamaah Tabligh


Semasa belajar di Mekkah, KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah, bersahabat dengan Maulana Muhammad Ilyas, pendiri Jamaah Tabligh – gerakan dakwah mendunia yang berpusat di New Delhi India. Demikian ditulis oleh Zaim Uchrowi dalam bukunya Authorized Biography “Muhammad Amien Rais Memimpin dengan Ruhani Ruhani (cetakan ke III, Juni 2004 hal 160). 
Di kota suci tersebut, KH Ahmad Dahlan diceritakan juga berteman dengan KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU (Nahdlatul Ulama). Kalau KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan KH Hasyim Asy’ari, maka ada kemungkinan besar KH Hasyim Asy’ari juga kenal dan bersahabat dengan Maulana Muhammad Ilyas, karena mereka semua hidup dan pernah menimba ilmu di kota suci dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. 
Dari foto/gambar KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari yang beredar di masyarakat, mereka berdua selalu digambarkan sebagai sosok berjenggot yang selalu mengenakan surban dan gamis, pakaian yang sekarang kayaknya asing dan jarang digunakan oleh para aktivis kedua gerakan tersebut, kecuali mungkin oleh sedikit kyai pesantren yang tinggal di kampung (mungkin dianggap tidak substansial?). 
Sementara gambar/foto Maulana Ilyas sendiri, sejauh ini tidak ada yang diedarkan (beliau juga tidak menghendakinya). Tetapi, kalau kita dilihat dari para aktivis gerakan yang beliau perintis dan dari buku-buku yang ditulis tentang beliau, penampilan beliau sehari-hari saya kira juga tidak akan jauh berbeda dari kedua tokoh tersebut. 
Dari nama gerakan yang dipakai oleh ketiga gerakan tersebut juga menunjukkan semangat yang sama untuk menghidupkan kembali agama sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Muhammadiyyah, secara harfiyah dapat diartikan sebagai pengikut Muhammad. NU (Nahdlatul Ulama) secara harfiah bermakna kebangkitan para ulama. Ulama sendiri, sebagaimana disebutkan dalam hadits, adalah pewaris para nabi dan penghulu para nabi adalah nabi Muhammad SAW. 
Sedangkan nama Jamaah Tabligh tidak lah diberikan oleh Maulana Ilyas sendiri, nama ini diberikan oleh orang lain. Maulana Ilyas sendiri tidak memberikan sebuah nama pun untuk gerakan beliau, seandainya harus ada nama, maka beliau lebih suka memberi nama gerakan ini dengan nama “Harakatul Iman” (Gerakan Iman). 
Kisah di atas adalah sekelumit contoh kecil mengenai hubungan dan persentuhan antar tokoh tiga gerakan Islam tersebut. Jika penelusuran dilakukan lebih mendalam, maka penulis yakin, antar tokoh-tokoh gerakan Islam bisa ditemukan persentuhan yang lebih luas lagi. 
Gambaran sementara orang bahwa hubungan antar berbagai gerakan Islam adalah tidak harmonis, tidak bisa bekerja sama dan saling bertentangan sama lain adalah gambaran yang terlalu dibesar-besarkan. Para tokoh pendiri gerakan sendiri memberi teladan yang sangat baik bagaimana mereka harus bergaul dan saling menghormati satu dengan lainnya. 
Sekarang ini kita hidup di jaman global dimana kita tidak mungkin hidup dalam sebuah enclave yang tertutup. Untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia ini kita harus berhubungan dengan orang lain, yang berasal dari negara, agama, bangsa dan bahasa yang berbeda. Maka untuk kepentingan menghidupkan kembali agama, kebutuhan untuk kerjasama satu dengan lainnya mesti lebih dibutuhkan lagi, tanpa kita harus menanggalkan identitas dan ciri khas kita masing-masing. 
Dua buah contoh sederhana dalam hal ini mungkin bisa disebutkan disini. KH Hasyim Muzadi, ketua PB NU yang sering digambarkan sangat kritis terhadap gerakan Transnasional, entah dilakukan secara sadar atau tidak, dalam sebuah kolomnya di harian Kompas pada bulan Ramadhan tahun 2006, pernah mengutip pendapat dari sebuah kitab yang dijadikan pegangan oleh para aktivis Jamaah Tabligh di seluruh dunia, yaitu kitab Fadhilah Amal-nya Maulana Zakariyya Kandahlawy. Beliau mengutip dari buku itu dalam konteks pentingnya kita memanage waktu dalam kehidupan kita, terutama kaitannya dengan bulan Ramadhan. 
Sementara itu di Yogyakarta, seorang cucu KH Ahmad Dahlan, Muhammad Iftironi, juga aktif di kegiatan Masjid Ittihad, Jalan Kaliurang Km 5,5, markaz Tabligh di Yogyakarta, beliau juga sering melakukan perjalanan dakwah keliling dari satu masjid ke masjid yang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau juga lebih sering tampil dengan pakaian “kebesaran” seperti kakeknya, yaitu berbaju gamis dan bersurban. Pak Iftironi insya allah juga sedang belajar untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad (Muhammadiyah) sejati seperti dulu yang dilakukan oleh kakeknda tercinta. 
Contoh-contoh kecil semacam itu saya kira cukup menyejukkan dan seharusnya bisa dikembangkan lebih luas lagi dalam kehidupan sehari-hari. Kalau ketiga pendiri gerakan tersebut bisa saling bersahabat dan berteman satu sama lain, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencontohnya. 
Tantangan bagi umat Islam untuk bangkit kembali sangat berat, baik dari internal maupun eksternal. Maka saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi kita untuk saling membesar-besarkan perbedaan, saling curiga, mencela dan saling menyebarkan fitnah satu sama lain. Marilah kita saling berfastabiqul khairat untuk mencari keridloaan Allah SWT. Wallahul mustaan

Jamaah Tabligh di Medan


Sejarah awal perkembangan Jamaah Tabligh di Medan diawali dengan kedatangan Maulana Muhammad Ibrahim dari Banglore India pada 1971. Saat tiba di Medan ia disambut oleh masyarakat Medan dengan baik. 
Seorang yang sangat tertarik dengan tabligh ini adalah Haji Jalaluddin, sehingga dalam menyampaikan dakwahnya Maulana Ibrahim selalu ditemani Haji Jalaluddin. Mereka kemudian membangun Masjid Hidayatul Islamiyah di Jalan Gajah Medan, yang kemudian menjadi pusat Jamaah Tabligh Medan. Maulana Ibrahim kemudian mencurahkan ilmunya pada Haji Jalaluddin, dan setelah ia yakin Haji Jalaluddin mampu mengembangkan Jamaah Tabligh di Medan ia pun kembali ke negara asalnya. Haji Jalaluddin kemudian menjadi amir di Medan. Setelah ia meninggal jabatan amir diteruskan oleh anaknya Haji Badruddin. 
Pengembangan dakwah yang berkesinambungan dan terus menerus menghasilkan perkembangan jumlah anggota Jamaah Tabligh di Medan. Masjid Hidayatul Islamiyah di Jalan Gajah, yang kemudian lebih dikenal dengan Masjid Jalan Gajah, menjadi sentra perkembangan jamaah ini. Berbagai halaqah kemudian berdiri di berbagai daerah di Medan dan sekitarnya, misalnya di Tanjung Mulia, Paya Pasir, dan Batang Kuis. 
Sampai saat ini, menurut Haji Badruddin, sulit untuk memastikan jumlah anggota Jamaah Tabligh di Medan. Hal ini karena Jamaah Tabligh tidak mengenal sistem formalitas administrasi keanggotaan. Namun yang jelas anggotanya terdiri dari berbagai tingkat pendidikan, sosial ekonomi dan mazhab atau aliran. 
Peraturan dalam Jamaah Tabligh disebut adab atau ushul dawah, inilah yang menjadi ciri khas Jamaah Tabligh, yakni empat hal yang diperbanyak: dakwah, taklim, zikir ibadah, khidmat. Empat hal yang harus dikurangi makan-minum yang berlebihan, istirahat/tidur, berbicara yang sia-sia/tidak perlu, keluar/meninggalkan masjid. Empat hal yang harus dijaga adalah hubungan dengan amir dan jamaah lainnya, amalan infiradi dan jama’i, kehormatan masjid, sabar dan tahammul (tahan ujian). Empat hal yang harus ditinggalkan: meminta kepada yang selain Allah, mengharap kepada yang selain Allah, menggunakan barang orang lain tanpa izin, boros dan mubajir. Dan empat hal yang tidak boleh dibicarakan adalah politik, ikhtilaf, pangkat dan kedudukan, kebaikan atau jasa dan aib orang lain/masyarakat. 
Haji Badruddin juga mengatakan, Jamaah Tabligh dalam mentransformasikan nilai-nilai Islam selalu mengajak orang lain untuk bergabung ke dalam Jamaah Tabligh. “Dakwah disampaikan secara targhib (kabar gembira) yakni dengan memberikan informasi tentang hal-hal yang membahagiakan apabila seseorang menjalani kehidupan sesuai dengan jalan Allah. Juga sebaliknya dengan tahrib (ancaman) yakni memberikan informasi tentang bentuk-bentuk penderitaan yang akan dialami seseorang yang keluar dari tuntunan ilahi,” terangnya. 
Lebih lanjut Haji Badruddin mengatakan, pihaknya mendakwahkan Islam kepada masyarakat tanpa mempersoalkan aliran, mazhab, dan khilafiah. “Memakmurkan masjid merupakan satu aktifitas khas Jamaah Tabligh yang dilakukan dalam setiap waktu salat, baik saat mereka di rumah maupun saat mereka berdakwah keluar. Jamaah Tabligh dalam memakmurkan masjid dengan mengisi amalan masjid seperti talim wa talum (mengajar dan belajar) yang biasa dilakukan setelah melaksanakan salat wajib,” paparnya. 
Amalan masjid yang lain yang mereka lakukan bila mukim di suatu masjid adalah membaca Al-Quran, salat tahajud, salat dhuha, dan lain-lain. Salat berjamaah di masjid merupakan amal yang sangat disiplin dilakukan oleh Jamaah Tabligh baik saat berdakwah maupun saat di rumah. Pada umumnya sebelum azan sudah datang ke masjid. 
Sedangkan, zikir dan doa merupakan ibadah yang juga menduduki posisi penting bagi Jamaah selain salat. “Lafaz zikir yang selalu kami lakukan adalah istighfar, tahmid, tasbih, takbir dan tahlil. Berdoa juga kami lakukan secara teratur untuk membuktikan manusia adalah makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan pertolongan Allah,” katanya. 
Membudayakan salam juga merupakan aktivitas yang selalu dilakukan Jamaah Tabligh bukan saja terhadap sesama anggota tetapi juga terhadap sesama Muslim. Setiap anggota Jamaah Tabligh dilatih dengan pendekatan praksis untuk senantiasa beribadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. “Kami saling mengingatkan satu sama lain tentang pengamalan ibadah-ibadah ini. 
Setiap anggota dilatih untuk mampu menyampaikan risalah dakwah tanpa mengenal batasan tingkat pendidikan formal maupun keluasan ilmu pengetahuan ke Islaman yang dimiliki. Bagi Jamaah Tabligh, berdakwah bukan hanya dalam batas peribadatan, tetapi juga dengan memberikan teladan yang baik (uswatun hasanah) dalam berakhlak,” ujarnya. 
Dalam berpakaian dan berhias Jamaah Tabligh lebih senang memakai gamis/jubah yaitu baju panjang sampai ke lutut dan dengan celana yang tidak sampai mata kaki. “Kami mewajibkan kalangan wanita menutup auratnya kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian ini mereka gunakan dalam semua aktivitas,”katanya.(saz)

Islam masuk ke Indonesia waktu Nabi Muhammad SAW masih hidup


Sebagai pelabuhan niaga samudera, Barus (Lobu Tua) diperkirakan sudah ada sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Bahkan ada juga yang memerkirakan lebih jauh dari itu, sekitar 5000 tahun sebelum Nabi Isa lahir. Perkiraan terakhir itu didasarkan pada temuan bahan pengawet dari berbagai mummy Fir'aun Mesir kuno yang salah satu bahan pengawetnya menggunakan kamper atau kapur barus. Getah kayu itu yang paling baik kualitasnya kala itu hanya ditemukan di sekitar Barus. Sejarawan di era kemerdekaan, Prof Muhamad Yamin memerkirakan perdagangan rempah-rempah diantara kamper sudah dilakukan pedagang Nusantara sejak 6000 tahun lalu ke berbagai penjuru dunia. Seorang pengembara Yunani, Claudius Ptolomeus menyebutkan bahwa selain pedagang Yunani, pedagang Venesia, India, Arab, dan juga Tiongkok lalu lalang ke Barus untuk mendapatkan rempah-rempah. Lalu pada arsip tua India, Kathasaritsagara, sekitar tahun 600 M, mencatat perjalanan seorang Brahmana menacari anaknya hingga ke Barus. Brahmana itu mengunjungi Keladvipa (pulau kelapa diduga Sumatera) dengan rute Ketaha (Kedah-Malaysia), menyusuri pantai Barat hingga ke Karpuradvipa (Barus). 
Pada sekitar tahun 627-643 atau tahun pertama Hijriahki kelompok pedagang Arab memasuki pelabuhan Barus. Diantara mereka tercatat nama Wahab bin Qabishah yang mendarat di Pulau Mursala pad a 627 M. Ada juga utusan Khulafaur Rasyidin bernama Syekh Ismail yang singgah di Barus sekitar tahun 634. Sejak itu, bangsa Arab (Islam) mendirikan koloni di Barus. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri, misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 M dalam bukunya Silsilatus Tawarikh. Berikutnya Dinasty Syailendra dari Champa (Muangthai) menaklukkan empirium Barus sekitar 850 M dan menamakan koloni itu seabagai Kalasapura. Setelah penaklukan itu, di kota pelabuhan itu berdiri koloni yang terdiri dari berbagai bangsa terpisah dari penduduk asli. Seabad setelah itu, bangsa Eropa menemukan Barus. Penjelajah terkenal Marcopolo menjejakkan kakinya di bandar perniagaan itu pada 1292 M. Sedangkan sejarawan muslim ternama, Ibnu Batutah, mengunjungi Barus pada 1345 M. Berikutnya pelaut Portugis berdagang di kota ini pada 1469 M. Sedangkan pedagang dari berbagai belahan dunia lain menyinggahi Barus, tercatat dari Srilanka, Yaman, Persia, Inggeris, dan Spanyol. 
Emporium Sarus
Banyak sejarawan muslim mengaku arti penting pantai Barat Pulau Sumatera sebagai salah satu daerah awal masuknya Islam ke Nusantara. Namun belum ada kesepakatan dintara mereka, apakah Barus merupakan lokasi pertama masuknya Islam. Pandangan itu setidaknya mengemuka dalam Seminar I "Masuknya Islam di Nusantara" yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963. Dalam seminar itu, seorang sejarawan lokal, bernama Dada Meuraksa berkeyakinan Islam masuk ke Barus pada tahun I Hijriah, berdasarkan penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin di komplek pemakaman mahligai. 
Batu nisan itu menginformasikan bahwa Syekh Rukunuddin wafat dalam usia 100 tahun, 2 bulan, dan 22 hari pada tahun hamim atau hijaratun Nabi. Meuraksa menerjemahkan ha - mim itu 8-40 yang kemudian dijumlahkan menjadi 48 H. Perhitungan itu berdasarkan Ilmu Falak dari kitab Tajut Mutuk. Namun pada seminar itu pandangan Meuraksa disangkal ulama terkenal Sumut saat itu, ustadz HM Arsyad Thalib Lubis. Menurut ulama pendiri AI Jam'iyatul Washliyah ini, bukti nisan tidak dapat dijadikan dasar penentuan. Perbedaan itu terus berlangsung hingga belasan tahun kemudian. Baru pada 1978 sejumlah arkeolog dipirnpin Prof DR Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar daerah Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog dari Universitas Airlangga Surabaya itu meyakini Islam sudah masuk sejak tahun I Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat pertama oleh sejarawan local Dada Meuraksa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya. 
Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus yang bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, menurut ustadz Djamaluddin Batubara, hingga kini masih ada, namun ada yang belum bisa diterjemahkan, Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan huruf Arab. Ustadz Djamaluddin Batubara memiliki teori lain tentang keberadaan makam Syekh Mahmud yang letaknya terpencil di ketinggian bukit Papan Tinggi, Menurutnya, Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, dan diperkirakan datang lebih awal dari Syekh Rukunuddin, yakni pada era 10 tahun pertama dakwah rasulullah Muhammad SAW di Mekkah, Masa kedatangan ulama, yang diduga masih kerabat dan sahabat nabi itu, membawa ajaran Islam Tauhid tanpa Syariat, "Itu sebabnya di makam itu belum ada penanggalan, melainkan sabda nabi SAW yang bermakna tauhid," jelas ustadz Djamaluddin. Selain itu, ketinggian makam itu disbanding 43 makam lain menjadi alasan terdahulunya kedatangan Syekh Mahmud ketimbang penyebar Islam lainnya. 
Dijelaskan oleh ustadz lulusan Pondok Pesantren Purba Baru ini, Syekh Mahmud adalah merupakan penyebar Islam pertama di Barus, sedangkan 43 ulama lainnya merupakan pengikut dan murid-muridnya. Ke 43 makam ulama penyebar Islam itu diantaranya, makam Syekh Rukunuddin, Tuanku Batu Badan, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang, Tuanku Makhodum, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ahmad Khatib Sidik, dan makam Imam Mua'azhansyah. Selanjutnya makam Imam Chatib Miktibai, Tuanku Pinago, Tuanku Sultan Ibrahim bin Tuanku Sultan Muhammadsyah Chaniago, dan makam Tuanku Digaung. 
Dikatakan oleh ustadz Djamaluddin, keberadaan Islam di Barus berhubungan langsung dengan Islam di Aceh. Beberapa arsip kuno menunjukkan adanya tiga ulama Islam yang menghubungkan Barus dan Aceh. Misalnya, keberadaan ulama terkenal Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Syamsuddin as Sumatrani, paham paham keagamaan mereka berseberangan dengan Syekh Abdul Rauf Singkil. Diyakini banyak sejarawan Islam, kedua ulama terdahulu bermukim dan menyebarkan pahamnya di Barus setelah paham Wujudiah mereka mendapat serangan dari Syekh Abdul Rauf Singkil dan tidak diakui di Kerajaan Islam Samudera Pasai, Aceh. 
Menurut ustadz Djamaluddin Batubara, etnik Batak dikenal sangat teguh memegang adat istiadat melebihi apapun. Sedangkan adat istiadat mereka pegang diperkuat dengan ajaran lokal Parmalim atau Sipetebegu. Namun patut dicatat, awalnya masuknya Islam dimasa Syekh Mahmud dan 43 ulama lainnya, diperkirakan tidak ada penolakan, malah terjadi sinkretisisme simbolik. Baru pada periode kedua masuknya Islam sekitar abad 17 M, ajaran itu ditolak, karena berlawanan dengan adat kebiasaan masyarakat setempat, "Jelasnya, ketika Islam tauhid atau sufistik datang, tak ada penolakan. Baru ketika Islam syariat datang masyarakat menolak," tegas Djamaluddin.

Gereja Menjadi Masjid


ISLAM DUNIA
Seiring meningkatnya jumlah Muslim di Eropa dan Amerika akibat dari arus Urbanisasi, angka kelahiran muslim dan bertambahnya jumlah mu’alaf di negara-negara tersebut serta meningkatnya kebutuhan akan sarana Ibadah Muslim, hal ini telah menimbulkan fenomena baru dengan berubah fungsinya Gereja-gereja menjadi Masjid dan tempat ibadah dari agama lain. Berikut ini beberapa cuplikan artikel yang berhasil kami himpun akan fenomena ini.
MASJID AN NASHR, MASJID TERBESAR DI BELANDA
Kaum muslimin di Belanda berusaha keras untuk mewujudkan Masjid an-Nashr di kota Routerdam dalam penampilan barunya setelah diumumkan adanya  sebuah proyek besar untuk renovasi bangunan yang asalnya adalah sebuah gereja yang berhasil dibeli oleh minoritas muslim dari pengurus gereja.
Panitia pembaharuan masjid berkeinginan untuk menjadikan masjid tersebut sebagai masjid terbesar di benua Eropa, serta ingin menambahkan bangunan-bangunan lain untuk  penyempurnaan fungsi masjid sebagai lembaga sosial dan kebudayaan di samping fungsinya sebagai tempat peribadatan.
Ali at-Tasyi, Direktur Yayasan Masjid an-Nashr menjelaskan bahwa masjid akan mengalami pembaharuan dalam penampilan dan pelebarannya setelah beberapa pihak tertentu pada tahun-tahun terakhir ini menutup sebagian lokasi masjid karena rapuh dan hampir runtuh.At-Tasyi menambahkan: “25 tahun yang lalu kami mampu membeli bangunan tersebut seharga setengah juta Euro, dan bangunan masjid ini dulunya adalah sebuah gereja, lalu kaum muslimin membelinya pada tahun 1982.”
Demikianlah telah diumumkan bahwa sejumlah LSM mengunjungi masjid tersebut tentang persiapannya untuk saling membantu dan bekerja sama dengan yayasan masjid dalam renovasi dan perluasan yang keduanya akan memakan biaya lebih dari sepuluh juta Euro.
Pemusatan kaum muslimin Belanda terhadap urgensi fungsi masjid dalam kehidupan minoritas muslim, serta sebagai penopang hubungan dengan komunitas lain, datang  setelah keputusan pemerintah Belanda untuk mewajibkan pelarangan pemakaian cadar secara merata di seluruh tempat umum. Yang demikian menjadikan Belanda adalah Negara Eropa pertama kali yang mengambil keputusan seperti ini, dengan klaim bahwa penutup wajah membentuk sebuah ancaman teroris, atau dengan kata lain identik dengan teroris.
Perlu disebutkan bahwa sebuah harian nasional milik umat Kristiani menyebutkan dengan terang-terangan bahwa Eropa baru telah muncul, dan seolah-olah ia mencampakkan orang-orang Nasrani. Gereja-gereja kosong dan roboh mengubur dirinya. Gedung-gedung yang bersejarah dijual dengan harga yang sangat murah untuk dirubah menjadi apartemen tempat tinggal, restoran, dan fungsi ibadah agama selain Nasrani. (AR)*
CATEDRAL MOSQUE, MASJID AGUNG DI MARSEILLE – PRANCIS
Hampir selama 150 tahun, Gereja Notre-Dame S de la Garde menghiasi pemandangan Kota Marseille, Prancis. Gereja ini terletak di titik tertinggi kota tersebut yang menghadap sebuah pelabuhan tua. Tapi, tak lama lagi pemandangan itu akan berubah. Di sana akan berdiri sebuah masjid agung.
Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai `Cathedral Mosque’. Arsitek yang merancang bangunan masjid itu mengatakan, bahwa mereka meminjam inspirasi Taj Mahal. Kelak, masjid ini akan dilengkapi dengan kubah emas besar. Menaranya akan menjulang mencapai 24 meter.
Ruangan salat dirancang cukup luas dan diperkirakan mampu menampung sekitar 7.000 jamaah dan akan menjadi masjid terbesar di Prancis.
“Ini merupakan proyek yang lama tertunda,” kata Yves Moraine, pemimpin partai berkuasa UMP kepada kantor berita BBC.
Menurut pandangannya, lebih baik mendorong Islam yang terbuka. Membangun tempat ibadah yang terlihat banyak orang. Daripada memaksa Muslim menjadi komunitas bawah tanah. Di mana mereka menjalankan shalatnya di gudang-gudang bawah tanah. Berdirinya masjid di kota besar akan membantu mencegah ekstremisme.
Moraine menyatakan, masjid yang mudah diakses juga akan mencegah munculnya imam-imam masjid yang tak terlatih. Kemudian, mereka menyampaikan pandangan-pandangan ekstrem kepada para pemuda. Tak heran dengan pertimbangan semacam itu, ia menyampaikan pendapat positif atas pembangunan masjid itu.
Ada sejumlah kalangan yang menyebut bahwa lokasi rencana pembangunan masjid itu tak strategis karena terlalu padat. Namun, Makhete Cisse dari Association of Mosques, organisasi yang menjalankan proyek itu, menyanggahnya. “Ini posisi sempurna dan kami dikelilingi oleh komunitas Muslim yang jumlahnya besar,” katanya.
Cisse menjelaskan, nantinya bangunan masjid ini mempunyai luas lebih dari 8.361 meter persegi. Ini merupakan sebuah kompleks yang dilengkapi dengan sebuah perpustakaan dan restoran. “Kami memang membutuhkan tempat yang besar. Apalagi, masjid berada tak jauh dari pusat bisnis.”
Dibutuhkan pula, dana besar untuk mendirikan bangunan masjid itu. Soal ini memicu sejumlah kontroversi sebab sebagian besar dari 25 juta dolar AS yang dibutuhkan, diperkirakan diperoleh dari luar negeri. Di antaranya, berasal dari Aljazair, Arab Saudi dan negaranegara Timur Tengah, dan Afrika Utara lainnya.
Sejumlah politisi lokal dari National Front menentang rencana pembangunan masjid tersebut. Mereka menyampaikan gugatan menghadang proyek tersebut. Bagi mereka, ini sama saja dengan persoalan cadar. Mereka mempertahankan nilai-nilai sekuler. “Kami tak mengundang Islam di sini,” kata Stephane Ravier dari National Front.
Abdel Hakim Rahal, seorang warga Muslim, mengatakan, rencana pembangunan masjid di Marseille menjadi bukti upaya asimilasi Muslim ke dalam masyarakat di Marseille. “Kami membutuhkan tempat untuk bertemu dan menjalankan shalat. Kami telah lama menantikannya.”
Oleh karena itu, Rahal sangat mensyukuri akan adanya sebuah masjid besar di Marsielle. Ia kemudian mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Prancis untuk menggambarkan penantian panjangnya itu, Mieux vaut tard que jamais, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
MASJID JAMI’ MILIK MUSLIM NEW YORK, AS.

Sebuah kelompok Muslim telah membeli sebuah bekas gereja katolik ‘Queen of Peace’ berikut biara dan sekolahnya,  di jalan Genesee di kawasan Buffalo pinggiran kota New York AS dan berencana untuk menggunakan kompleks bekas gereja tersebut menjadi pusat komunitas Muslim dan masjid.
Gereja tersebut akan dirubah menjadi masjid dan dinamakan masjid Jami’, yang artinya tempat untuk berkumpul bersama, kata Dr Hatim Hamad yang menjadi pimpinan kelompok orang tua Islam, serta yang mendanai pembelian masjid tersebut.
Yang menjadi alasan pembelian gereja beserta kompleksnya tersebut, mengingat keberadaan umat Islam yang terus berkembang di seluruh wilayah barat kota New York, sebelumnya umat Islam disana telah memiliki sembilan  masjid dan masjid kesepuluh akan dibangun di jalan transit daerah Amherst.
Masjid Jami’ nantinya akan difokuskan pada pembinaan anak-anak dan kegiatan-kegiatan ke Islaman serta menawarkan berbagai program kegiatan untuk pemuda.
“Kami ingin membangun masjid yang besar, tapi kami semua menginginkan masjid yang kami bangun akan banyak  bermanfaat bagi masyarakat,” kata Dr Hatim Hamad yang juga seorang asisten profesor klinik pada universitas Buffalo fakultas kedokteran gigi.
“Di kawasan Buffalo, benar-benar belum ada pusat komunitas untuk anak muda,”tambah Hamad.”Dan bangunan ini sangat besar serta lokasinya tepat ditengah kawasan Buffalo.”
Queen of Peace adalah gereja kedelapan di kawasan Buffalo yang dijual sejak tahun 2006. Gereja Queen of Peace ditutup pada akhir tahun 2007 yang lalu.
Pihak keuskupan sampai saat ini masih mencoba untuk menjual 30 properti lainnya termasuk di tujuh kota lain.
Gereja Queen of Peace dibangun pada akhir tahun 1920, dan properti komplek bangunan gereja tersebut sangat besar.
Sebelum dijual, banyak hiasan-hiasan gereja serta altar yang telah dijual kepada paroki Katolik di Colorado. Kebanyakan bangku gereja dan simbol-simbol katolik telah disingkirkan dari bangunan gereja tersebut, walau pun beberapa lukisan yang berada di dinding gereja masih ada.
Kelompok Muslim berencana untuk mengganti semua karpet dan lukisan-lukisan yang terdapat di dalam gereja.
Masjid-Masjid Lain di Eropa dan Amerika Yang Dulunya Gereja
Di saat umat Kristen Inggris “lari” dari gereja, umat Islam ambil alih tempat mereka untuk dijadikan masjid. Di Peace Street 20 Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang amat berwibawa, yang lengkap dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton, terutama yang memeluk Islam, bahkan tiap pekannya, ribuan umat Islam hadir di tempat ini, guna melaksanakan shalat Jumat. Gedung itu tidak lain adalah Masjid Zakariyya.
Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu antara tahun 1965 hingga 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum memiliki tempat permanen untuk melaksanakan shalat. Untuk melakukan shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah diskotik dan tempat dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya di hari Jumat tempat itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat.
Karena jumlah jama’ah semakin bertambah, maka diperlukan tempat besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang bisa digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center. Pada tahun 1967, ada penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa dijual karena terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling dari komunitas Muslim lokal, akhirnya bangunan itu menjadi milik umat Islam. Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.
Tidak hanya Masjid Zakariyya, beberapa masjid Inggris pun memiliki kisah yang hampir sama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni sama-sama berasal dari gereja yang dijual, baik karena kehilangan pengikut, atau karena sebab lainnya. Berikut ini masjid-masjid yang dulunya merupakan gereja:
Masjid Jami’ London

Tempat ibadah ini juga dikenal dengan sebutan masjid Brick Lane, karena posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu, merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000 jama’ah. Walau demikian luas, masjid ini belum bisa menampung seluruh anggota jama’ah shalat Jumat, hingga sering kali jama’ah meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama’ah merupakan keturunan Banglades, hingga wilayah tersebut disebut Banglatow.
Masjid ini memiliki sejarah yang sangat unik dan panjang. Awalnya, bangunan yang didirikan sejak tahun 1743 ini adalah gereja Protestan. Dibangun oleh komunitas Huguenot, atau para pemeluk Protestan yang lari dari Prancis untuk menghindari kekejaman penganut Katolik. Akan tetapi, karena jama’ahnya menurun, maka gereja ini dijual.
Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, dengan cara mengajarkan Kristen dengan akar ajaran Yahudi. Tapi, program ini juga gagal. Dan bangunan diambil oleh komunitas Metodis pada tahun 1819.
Komunitas Metodis cukup lama “memegang” gereja ini. Walau demikian, pada tahun 1897, tempat ini diambil oleh komunitas Ortodok Independen dan berbagi dengan Federasi Sinagog yang menempati lantai dua.
Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, karena mereka pindah ke wilayah utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut hingga tahun 1976. Setelah itu gedung itu dibuka kembali, dengan nama barunya, Masjid Jami’ London.
Masjid Didsbury

Masjid ini terletak di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester. Gedung yang digunakan sebelumnya merupakan bekas gereja komunitas Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno, karena telah beroprasi sejak tahun 1883. Akan tetapi, pada tahun 1962 gereja ditutup, dan beralih menjadi masjid dan islamic center. Masjid ini, kini mampu menampung 100 jama’ah, dan yang bertanggung jawab sebagai imam dan khatib hingga kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.
Masjid Brent

Terletak di Chichele Road, London NW2, dengan kapasitas 450 orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya ditambah kubah kecil berwarna hijau di beberapa bagian bangunan dan puncak menara.
Masjid New Peckham

Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya, gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.
Masjid Sentral Wembley

Masjid ini terletak di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley Park Station. Daerah ini memiliki komunitas Muslim besar dan banyak toko Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini sebelumnya juga merupakan bekas gereja. Walau sudah terpasang kubah di puncak menaranya, tapi kekhasan bangunan gereja masih nampak jelas. Dengan demikian,siapa saja yang melihatnya, akan mengetahui bahwa bangunan itu dulunya adalah gereja.
Selian masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga sudah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, karena jama’ah berkurang, sehingga kegiatan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja ini sudah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja akan dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.
Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300 jama’ah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk berwudhu dan sebuah menara.

Gereja Menjadi Masjid


ISLAM DUNIA
Seiring meningkatnya jumlah Muslim di Eropa dan Amerika akibat dari arus Urbanisasi, angka kelahiran muslim dan bertambahnya jumlah mu’alaf di negara-negara tersebut serta meningkatnya kebutuhan akan sarana Ibadah Muslim, hal ini telah menimbulkan fenomena baru dengan berubah fungsinya Gereja-gereja menjadi Masjid dan tempat ibadah dari agama lain. Berikut ini beberapa cuplikan artikel yang berhasil kami himpun akan fenomena ini.
MASJID AN NASHR, MASJID TERBESAR DI BELANDA
Kaum muslimin di Belanda berusaha keras untuk mewujudkan Masjid an-Nashr di kota Routerdam dalam penampilan barunya setelah diumumkan adanya  sebuah proyek besar untuk renovasi bangunan yang asalnya adalah sebuah gereja yang berhasil dibeli oleh minoritas muslim dari pengurus gereja.
Panitia pembaharuan masjid berkeinginan untuk menjadikan masjid tersebut sebagai masjid terbesar di benua Eropa, serta ingin menambahkan bangunan-bangunan lain untuk  penyempurnaan fungsi masjid sebagai lembaga sosial dan kebudayaan di samping fungsinya sebagai tempat peribadatan.
Ali at-Tasyi, Direktur Yayasan Masjid an-Nashr menjelaskan bahwa masjid akan mengalami pembaharuan dalam penampilan dan pelebarannya setelah beberapa pihak tertentu pada tahun-tahun terakhir ini menutup sebagian lokasi masjid karena rapuh dan hampir runtuh.At-Tasyi menambahkan: “25 tahun yang lalu kami mampu membeli bangunan tersebut seharga setengah juta Euro, dan bangunan masjid ini dulunya adalah sebuah gereja, lalu kaum muslimin membelinya pada tahun 1982.”
Demikianlah telah diumumkan bahwa sejumlah LSM mengunjungi masjid tersebut tentang persiapannya untuk saling membantu dan bekerja sama dengan yayasan masjid dalam renovasi dan perluasan yang keduanya akan memakan biaya lebih dari sepuluh juta Euro.
Pemusatan kaum muslimin Belanda terhadap urgensi fungsi masjid dalam kehidupan minoritas muslim, serta sebagai penopang hubungan dengan komunitas lain, datang  setelah keputusan pemerintah Belanda untuk mewajibkan pelarangan pemakaian cadar secara merata di seluruh tempat umum. Yang demikian menjadikan Belanda adalah Negara Eropa pertama kali yang mengambil keputusan seperti ini, dengan klaim bahwa penutup wajah membentuk sebuah ancaman teroris, atau dengan kata lain identik dengan teroris.
Perlu disebutkan bahwa sebuah harian nasional milik umat Kristiani menyebutkan dengan terang-terangan bahwa Eropa baru telah muncul, dan seolah-olah ia mencampakkan orang-orang Nasrani. Gereja-gereja kosong dan roboh mengubur dirinya. Gedung-gedung yang bersejarah dijual dengan harga yang sangat murah untuk dirubah menjadi apartemen tempat tinggal, restoran, dan fungsi ibadah agama selain Nasrani. (AR)*
CATEDRAL MOSQUE, MASJID AGUNG DI MARSEILLE – PRANCIS
Hampir selama 150 tahun, Gereja Notre-Dame S de la Garde menghiasi pemandangan Kota Marseille, Prancis. Gereja ini terletak di titik tertinggi kota tersebut yang menghadap sebuah pelabuhan tua. Tapi, tak lama lagi pemandangan itu akan berubah. Di sana akan berdiri sebuah masjid agung.
Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai `Cathedral Mosque’. Arsitek yang merancang bangunan masjid itu mengatakan, bahwa mereka meminjam inspirasi Taj Mahal. Kelak, masjid ini akan dilengkapi dengan kubah emas besar. Menaranya akan menjulang mencapai 24 meter.
Ruangan salat dirancang cukup luas dan diperkirakan mampu menampung sekitar 7.000 jamaah dan akan menjadi masjid terbesar di Prancis.
“Ini merupakan proyek yang lama tertunda,” kata Yves Moraine, pemimpin partai berkuasa UMP kepada kantor berita BBC.
Menurut pandangannya, lebih baik mendorong Islam yang terbuka. Membangun tempat ibadah yang terlihat banyak orang. Daripada memaksa Muslim menjadi komunitas bawah tanah. Di mana mereka menjalankan shalatnya di gudang-gudang bawah tanah. Berdirinya masjid di kota besar akan membantu mencegah ekstremisme.
Moraine menyatakan, masjid yang mudah diakses juga akan mencegah munculnya imam-imam masjid yang tak terlatih. Kemudian, mereka menyampaikan pandangan-pandangan ekstrem kepada para pemuda. Tak heran dengan pertimbangan semacam itu, ia menyampaikan pendapat positif atas pembangunan masjid itu.
Ada sejumlah kalangan yang menyebut bahwa lokasi rencana pembangunan masjid itu tak strategis karena terlalu padat. Namun, Makhete Cisse dari Association of Mosques, organisasi yang menjalankan proyek itu, menyanggahnya. “Ini posisi sempurna dan kami dikelilingi oleh komunitas Muslim yang jumlahnya besar,” katanya.
Cisse menjelaskan, nantinya bangunan masjid ini mempunyai luas lebih dari 8.361 meter persegi. Ini merupakan sebuah kompleks yang dilengkapi dengan sebuah perpustakaan dan restoran. “Kami memang membutuhkan tempat yang besar. Apalagi, masjid berada tak jauh dari pusat bisnis.”
Dibutuhkan pula, dana besar untuk mendirikan bangunan masjid itu. Soal ini memicu sejumlah kontroversi sebab sebagian besar dari 25 juta dolar AS yang dibutuhkan, diperkirakan diperoleh dari luar negeri. Di antaranya, berasal dari Aljazair, Arab Saudi dan negaranegara Timur Tengah, dan Afrika Utara lainnya.
Sejumlah politisi lokal dari National Front menentang rencana pembangunan masjid tersebut. Mereka menyampaikan gugatan menghadang proyek tersebut. Bagi mereka, ini sama saja dengan persoalan cadar. Mereka mempertahankan nilai-nilai sekuler. “Kami tak mengundang Islam di sini,” kata Stephane Ravier dari National Front.
Abdel Hakim Rahal, seorang warga Muslim, mengatakan, rencana pembangunan masjid di Marseille menjadi bukti upaya asimilasi Muslim ke dalam masyarakat di Marseille. “Kami membutuhkan tempat untuk bertemu dan menjalankan shalat. Kami telah lama menantikannya.”
Oleh karena itu, Rahal sangat mensyukuri akan adanya sebuah masjid besar di Marsielle. Ia kemudian mengutip sebuah ungkapan dalam bahasa Prancis untuk menggambarkan penantian panjangnya itu, Mieux vaut tard que jamais, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
MASJID JAMI’ MILIK MUSLIM NEW YORK, AS.

Sebuah kelompok Muslim telah membeli sebuah bekas gereja katolik ‘Queen of Peace’ berikut biara dan sekolahnya,  di jalan Genesee di kawasan Buffalo pinggiran kota New York AS dan berencana untuk menggunakan kompleks bekas gereja tersebut menjadi pusat komunitas Muslim dan masjid.
Gereja tersebut akan dirubah menjadi masjid dan dinamakan masjid Jami’, yang artinya tempat untuk berkumpul bersama, kata Dr Hatim Hamad yang menjadi pimpinan kelompok orang tua Islam, serta yang mendanai pembelian masjid tersebut.
Yang menjadi alasan pembelian gereja beserta kompleksnya tersebut, mengingat keberadaan umat Islam yang terus berkembang di seluruh wilayah barat kota New York, sebelumnya umat Islam disana telah memiliki sembilan  masjid dan masjid kesepuluh akan dibangun di jalan transit daerah Amherst.
Masjid Jami’ nantinya akan difokuskan pada pembinaan anak-anak dan kegiatan-kegiatan ke Islaman serta menawarkan berbagai program kegiatan untuk pemuda.
“Kami ingin membangun masjid yang besar, tapi kami semua menginginkan masjid yang kami bangun akan banyak  bermanfaat bagi masyarakat,” kata Dr Hatim Hamad yang juga seorang asisten profesor klinik pada universitas Buffalo fakultas kedokteran gigi.
“Di kawasan Buffalo, benar-benar belum ada pusat komunitas untuk anak muda,”tambah Hamad.”Dan bangunan ini sangat besar serta lokasinya tepat ditengah kawasan Buffalo.”
Queen of Peace adalah gereja kedelapan di kawasan Buffalo yang dijual sejak tahun 2006. Gereja Queen of Peace ditutup pada akhir tahun 2007 yang lalu.
Pihak keuskupan sampai saat ini masih mencoba untuk menjual 30 properti lainnya termasuk di tujuh kota lain.
Gereja Queen of Peace dibangun pada akhir tahun 1920, dan properti komplek bangunan gereja tersebut sangat besar.
Sebelum dijual, banyak hiasan-hiasan gereja serta altar yang telah dijual kepada paroki Katolik di Colorado. Kebanyakan bangku gereja dan simbol-simbol katolik telah disingkirkan dari bangunan gereja tersebut, walau pun beberapa lukisan yang berada di dinding gereja masih ada.
Kelompok Muslim berencana untuk mengganti semua karpet dan lukisan-lukisan yang terdapat di dalam gereja.
Masjid-Masjid Lain di Eropa dan Amerika Yang Dulunya Gereja
Di saat umat Kristen Inggris “lari” dari gereja, umat Islam ambil alih tempat mereka untuk dijadikan masjid. Di Peace Street 20 Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang amat berwibawa, yang lengkap dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton, terutama yang memeluk Islam, bahkan tiap pekannya, ribuan umat Islam hadir di tempat ini, guna melaksanakan shalat Jumat. Gedung itu tidak lain adalah Masjid Zakariyya.
Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu antara tahun 1965 hingga 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum memiliki tempat permanen untuk melaksanakan shalat. Untuk melakukan shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah diskotik dan tempat dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya di hari Jumat tempat itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat.
Karena jumlah jama’ah semakin bertambah, maka diperlukan tempat besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang bisa digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center. Pada tahun 1967, ada penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa dijual karena terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling dari komunitas Muslim lokal, akhirnya bangunan itu menjadi milik umat Islam. Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.
Tidak hanya Masjid Zakariyya, beberapa masjid Inggris pun memiliki kisah yang hampir sama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni sama-sama berasal dari gereja yang dijual, baik karena kehilangan pengikut, atau karena sebab lainnya. Berikut ini masjid-masjid yang dulunya merupakan gereja:
Masjid Jami’ London

Tempat ibadah ini juga dikenal dengan sebutan masjid Brick Lane, karena posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu, merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000 jama’ah. Walau demikian luas, masjid ini belum bisa menampung seluruh anggota jama’ah shalat Jumat, hingga sering kali jama’ah meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama’ah merupakan keturunan Banglades, hingga wilayah tersebut disebut Banglatow.
Masjid ini memiliki sejarah yang sangat unik dan panjang. Awalnya, bangunan yang didirikan sejak tahun 1743 ini adalah gereja Protestan. Dibangun oleh komunitas Huguenot, atau para pemeluk Protestan yang lari dari Prancis untuk menghindari kekejaman penganut Katolik. Akan tetapi, karena jama’ahnya menurun, maka gereja ini dijual.
Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, dengan cara mengajarkan Kristen dengan akar ajaran Yahudi. Tapi, program ini juga gagal. Dan bangunan diambil oleh komunitas Metodis pada tahun 1819.
Komunitas Metodis cukup lama “memegang” gereja ini. Walau demikian, pada tahun 1897, tempat ini diambil oleh komunitas Ortodok Independen dan berbagi dengan Federasi Sinagog yang menempati lantai dua.
Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, karena mereka pindah ke wilayah utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut hingga tahun 1976. Setelah itu gedung itu dibuka kembali, dengan nama barunya, Masjid Jami’ London.
Masjid Didsbury

Masjid ini terletak di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester. Gedung yang digunakan sebelumnya merupakan bekas gereja komunitas Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno, karena telah beroprasi sejak tahun 1883. Akan tetapi, pada tahun 1962 gereja ditutup, dan beralih menjadi masjid dan islamic center. Masjid ini, kini mampu menampung 100 jama’ah, dan yang bertanggung jawab sebagai imam dan khatib hingga kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.
Masjid Brent

Terletak di Chichele Road, London NW2, dengan kapasitas 450 orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya ditambah kubah kecil berwarna hijau di beberapa bagian bangunan dan puncak menara.
Masjid New Peckham

Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya, gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.
Masjid Sentral Wembley

Masjid ini terletak di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley Park Station. Daerah ini memiliki komunitas Muslim besar dan banyak toko Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini sebelumnya juga merupakan bekas gereja. Walau sudah terpasang kubah di puncak menaranya, tapi kekhasan bangunan gereja masih nampak jelas. Dengan demikian,siapa saja yang melihatnya, akan mengetahui bahwa bangunan itu dulunya adalah gereja.
Selian masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga sudah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, karena jama’ah berkurang, sehingga kegiatan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja ini sudah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja akan dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.
Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300 jama’ah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk berwudhu dan sebuah menara.

Dakwaan Ada Kubur Sahabat Nabi Di Malaysia


Anak panah merah mewakili pergerakan para sahabat r.hum ke China bermula Madinah,Yaman,Gujerat,Bengal,Chittagong,?Acheh,Melaka.

Wilayah nusantara ini didiami oleh rumpun bangsa Melayu(Jawi).Saat ini terdapat sekitar setengah Bilion penduduk yang mendiami wilayah ini.Dengan penduduk seramai 350 juta orang,dan diantaranya beragama Islam,ianya menjadikan rumpun bangsa Melayu adalah bangsa Muslim terbesar di dunia,bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan seluruh bangsa Arab yang merupakan bangsa pertama menjadi bangsa Muslim pertama.Ianya merupakan satu fenomena yang tidak ada pada bangsa lain dalam dunia ini.

Tentang dakwaan yang mengatakan terdapat puluhan kubur sahabat di nusantara, ini tidak boleh dinafikan tetapi tidak dapat dibuktikan.Hujah dan dakwaan untuk menyokong akan kemungkinan wujudnya para sahabat yang syahid/meninggal dunia dan dimaqamkan di nusantara tetap ada.

Para Sahabat Rasulullah SAW jumlahnya melebihi 100,000 orang.Hal ini adalah berdasarkan kepada umat Islam yang pada ketika itu,berkumpul di Padang Arafah untuk mendengar amanat dan pesan terakhir rasulullah SAW (hajatul Wida).Ribuan dari mereka telah tersebar ke seluruh dunia.Syeikh Yusof Al-Kandhalawi rah (pengarang kitab Hayatus Sahabah) berkata bahawa,para sahabat r.hum bergerak mengikut arah di mana kuda dan unta mereka bergerak.Hal ini terbukti apabila sahabat seperti Saidina Bilal r.hu,maqamnya di Syria,manakala Saidina Abu Ayub al-Ansari r.hu yang lahirnya di Madinah tetapi maqamnya di Istanbul,Turki.Para ulama berkata bahawa maqam para sahabat Nabi SAW berjumlah 70 orang,dan 35 orang sahabat maqam mereka di Kota Istanbul,Turki.Maqam para sahabat r.hu juga terdapat di China,India dan di benua Afrika.Bahkan ada juga pendapat menyatakan bahawa para sahabat Nabi saw pernah menjejak kaki sampai ke selatan benua Afrika.

1. Salah seorang dari sahabat Rasulullah SAW yang bernama Saidina Saad bin Lubaid al-Habsyi r.hu adalah salah seorang dari 73 orang yang diarahkan Nabi saw untuk berhijrah ke Habsyah sebelum berlakunya hijrah ke Madinah. Saidina Saad bin Lubaid al-Habsyi r.hu dan rakannya Saidina Yusof r.hu serta sahabat yang lain telah berlayar dari Habsyah ke China dan membina 2 buah masjid di Hanchow dan Canton (sekarang Guangzhou). Beliau bersama sahabatnya yang lain telah berdakwah di Chuan Chow, Chang Chow dan Canton serta bertanggungjawab mendirikan masjid Kwang Tah Se dan masjid Chee Lin Se di daerah Guangzhou.China juga telah lama menjadi destinasi perniagaan orang Arab bahkan di zaman dinasti Tang (sebelum kurun ke 7 M) telah ada komuniti masyarakat Arab (sebelum Islam) yang besar di Canton(Guangzhou).Saidina Saad bin Lubaid al-Habsyi r.hu telah berdakwah di sana. Jika mereka berulang alik di antara Tanah Arab dan Tanah Besar China maka tidak mustahil ada para sahabat r.hum yang singgah di Tanah Melayu dan kepulauan Melayu. Menurut catatan rasmi Dinasti Tang (618-905M), Islam dibawa kira-kira pada 651/652M (kurun ke 7M) apabila satu utusan Islam yang dikirimkan oleh Khalifah Othman b. Affan r.hu telah sampai ke Chang-an (kini Xian) ibu kota Dinasti Tang.(Sila rujuk buku yang di tulia oleh Hj Ibrahim Tien Y.M yang berjudul 'Perkembangan Islam di Tiongkok (China)'.

2. Ada sebilangan ahli sejarah Islam berpendapat,salah seorang dari sahabat besar Rasulullah SAW turut serta dalam ekspedisi itu adalah Saidina Saad bin Abi Waqqash r.hu,dan makamnya terletak di Guang Zhou (dulu Canton)di Negara China.Hal ini bermakna Masjid yang dibina di Guong Zhou (dulu Canton) adalah yang paling tua di Asia dan sezaman dengan Rasulullah SAW dan para sahabat.Untuk maklumat pembaca,Saidina Saad bin Abi Waqqash r.hu telah masuk Islam di hari pertamanya keislaman Saidina Abu Bakar r.hu.(Sila rujuk kitab Al Bidayah Wal Nihayah)

3, Menurut Monuskrip kuno Tiongkok ,pada tahun 625 M (hanya selepas 15 tahun Rasulullah SAW menerima) sudah ada perkampungan Arab di Sumatera Utara. Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW mempraktikan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam,besar kemungkinan sebahagian mereka adalah sahabat-sahabat r.hum (iaitu mereka yang pernah berjumpa dengan Rasulullah SAW). Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok menyebutkan, pada sekitar tahun 625M di pesisir pantai Sumatera, yang berada di dalam naungan Kerajaan Sriwijaya, telah berdiri sebuah perkampungan Arab.

Tahun 676M (48H)

Ditemukan beberapa makam Sahabat Nabi Muhammad SAW di Nusantara. Salah satu yang paling terkenal adalah makam Syeikh Rukunuddin r.hu(ada pendapat mereka adalah orang yang sama Saidina Wahab bin Qobishoh r.hu.) di Barus (Fansur) dekat Acheh, Sumatera Utara. Pada makamnya tertulis bahwa beliau wafat pada tahun 48 H. Tidak diketahui siapa nama Syeikh Rukunuddin r.hu sebenarnya,tapi dari tarikh kewafatanya kita boleh mengatakan bahwa kemungkinan beliau adalah salah sorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu orang yang hidup sezaman dan berjumpa dengan beliau. Maka,hal ini membenarkan lagi dakwaan bahawa ada para sahabat r.hu dan tabiin telah memulai gelombang awal sejarah pengislam di Bumi Nusantara.Kajian mengenai ini telah di buat oleh seorang pakar sejarah Islam Indonesia iaitu Ustadz Muhammad Nur Abdurrahman,dalam buku karangannya “Meninjau Kembali Masa Hidup Rasulullah”.Pendapat beliau dapat di nukilkan seperti berikut.

1. Surat dakwah yang disebarkan Rasulullah ke seluruh pelosok wilayah,dan boleh jadi ada yang ditujukan kepada Raja Sriwijaya,dan besar kemungkinan,surat ini dibawa oleh para sahabat r.hum di atas.Hal ini adalah kerana telah adanya hubungan perdagangan antara kerajaan Sriwijaya dengan bangsa Arab, yang ditandai dengan keberadaan perkampungan Arab di Sriwijaya, tahun 625M.

2. Misi dakwah ke Nusantara, semakin intensif dilakukan pada masa Khalifah Muawiyah r.hu ,dan ianya tidak menutup kemungkinan bahawa Syeikh Rukunuddin r.hu (atau Saidina Wahab bin Qobishoh r.hu.), adalah salah seorang sahabat Rasulullah, yang dikirim kerajaan Bani Umayyah, untuk menjadi salah seorang juru dakwah di Nusantara.Kebiasanya,mereka(para sahabat berjemaah dalam melakukan sesuatu ekspedisi dakwah) dan kemungkinan Syeikh Rukunuddin r.hu atau Saidina Wahab bin Qobishoh r.hu merupakan amir kepada jemaah ini.

Ahli sejarah Islam Indonesia,Sulaiman Wiranto dalam buku karangan beliau "Islam di Bengal dan kesannya kepada Nusantara" menyebut di tahun 620 M bahawa bebarapa orang sahabat Nabi saw seperti Saad bin Abu Waqqas r.hu,Saad bin Lubaid r.hu,Yusof r.hu,Malik ibn Wahaib r.hu, Qays bin Huzayfah r.hu, ‘Urwa ibn Athathah r.hu, Abu Qays ibn al-Harith r.hu dan sahabat yang lain (kemungkinan mereka ini dalam satu jemaah Dakwah ) di tahun ke tujuh kerasulan Nabi saw telah berlayar dari Madinah ke China melalui Gujerat,Bengal,Chittagong,Acheh,Melaka dan seterusnya ke China.Ekspedisi dakwah mereka mengambil masa 9 tahun untuk sampai ke China.

Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Hal inilah para sejarawan memanggilkannya sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari pendapat ahli orientalis Barat Snouck Hurgronje, kerana para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Bandar Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang hampir ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Berdasarkan peta Asia Selatan, kita boleh memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India(Gujerat) sebagai tempat transit yang sangat strategik sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera mahupun yang meneruskan ekspedisi ke Canton di China. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Bandar Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka lalu mereka meneruskan ekspedisi dakwah mereka ke China.

Tahun 726M (100H)

Ibn Abd Al Rabbih rah di dalam karyanya "Al Iqd al Farid", yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII’ menyebutkan adanya perhubungan antara raja Sriwijaya (Sri Indravarman) dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz rah. Pada sekitar tahun 100 H (726 M), Raja Sriwijaya berkirim surat yang isi surat tersebut adalah seperti berikut:

”Dari Raja di Raja (Malik al Amlak) yang adalah keturunan seribu raja; yang isterinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekedar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya”

http://wirapendang.blogspot.com/2011/04/?dakwaan-ada-kubur-sahabat-nabi-di_13.htm?l